|
7
Juta Rupiah per Hari ... !
Untuk menjadi kaya, sebagian besar orang,
terutama yang bosan miskin,
memerlukan sebuah ide "gila".
Ada banyak jalan menuju Roma. Begitu pula halnya
ada banyak cara untuk menjadi kaya. Mereka yang
mendapat karunia suara bagus seperti Titi DJ,
Krisdayanti, dan Ruth Sahanaya menjadi kaya
"hanya" dengan menyanyi. Mereka yang
kocak seperti Tukul Arwana menjadi kaya dengan
membuat orang tertawa.
Mereka yang pandai menendang bola seperti
Ronaldinho juga bisa kaya raya.
Mereka yang lahir sebagai putra-putri raja dan
konglomerat menjadi kaya
karena warisan. Anak kampung yang berhasil
menyunting putri bangsawan Brunei
Darussalam juga bisa kaya raya dalam sekejap
mata. Dan semua itu sah-sah
saja, bukan?
Menjadi kaya bahkan tidak saja dapat dilakukan
dengan caracara terpuji, tetapi juga dengan
cara-cara tercela, yakni melakukan perbuatan
haram dan tak bermoral lainnya. Para perampok
yang menggunakan senjata dan kekerasan bisa
hidup dalam gelimangan harta. Sama seperti
putra-putri presiden dan pejabat yang rajin
korupsi juga bisa hidup mewah. Ditambah dengan
kebiasaan berkolusi untuk menjarah hutan,
memonopoli industri tertentu dari hilir ke hulu,
mencuri uang rakyat di perbankan, atau
mengkavling-kavling tanah negara bagai petani
membagibagikan warisan nenek moyangnya, kekayaan
orang-orang tertentu di masa Orde Baru dapat
membuat mereka masuk daftar orang terkaya nomor
sekian di dunia. Bandar judi,
"dealer" narkoba dan minuman keras,
serta germo-germo yang menjual wanita
yang kerjanya cuma (maaf) "ngangkang",
juga bisa mendapatkan banyak uang
dalam waktu singkat.
Terlepas dari soal terpuji atau tercela,
bermoral atau bejat, sebagian besar orang
menjadi kaya bukan karena dilahirkan dalam
keluarga kaya, tetapi harus bekerja memproduksi
ide dan keringat agar dapat meningkatkan taraf
hidupnya. Sebab bukankah di negeri zamrud
katulistiwa ini sekitar 60 juta penduduknya
masih hidup di bawah garis kemiskinan? Dan
bukankah setelah krisis tahun 1997 sekitar 40
juta orang menjadi penganggur yang memburu
berbagai macam pekerjaan untuk dapat bertahan
hidup? Atau, bukankah manusia itu sendiri adalah
homo faber, makhluk yang mengekspresikan
keberadaannya dengan bekerja?
Salah satu jalan yang banyak diyakini orang akan
membawa mereka kepada
kekayaan adalah pendidikan. Dengan demikian
banyak orang berjuang keras untuk
menyekolahkan anak-anak mereka sampai
setinggi-tingginya. Logikanya adalah
sekolah setinggi mungkin, melamar pekerjaan dan
bekerja di perusahaan besar
(atau jadi pegawai negeri?), dan meningkatkan
taraf hidup anak cucu
berikutnya. Sejauh mana hal itu menjadi
kenyataan?
Mari kita telaah beberapa kasus berikut.
Juris, anak buruh tani miskin di Sumatera Utara,
hanyalah salah satu contoh yang bisa disebutkan.
Lahir tahun 1962, anak sulung dari keluarga
Batak ini disekolahkan orangtuanya dengan susah
payah hingga lulus jadi insinyur pertanian dari
Universitas Sumatera Utara. Dan dengan bekal
gelar akademis dibalut hasrat membara menjadi
kelas menengah Indonesia, ia merantau ke
Jakarta. Sayang ratusan lamaran yang
dikirimkannya tak kunjung memberikan hasil. Ia
terpaksa menganggur selama 4 tahun lebih.
Hidupnya ditopang anggota keluarga semarga yang
bersimpati. Mau pulang ke kampung ia malu.
Sampai akhirnya ia terpaksa menerima tawaran
untuk bekerja sebagai pegawai administrasi
penjualan di sebuah perusahaan konsultan
manajemen yang baru tumbuh. Gajinya sebulan Rp
400.000,00. Dan setelah bekerja selama dua
tahun, gajinya tak bergerak dari angka Rp
600.000,00 per bulan. Ditambah bonus tahunan dan
THR, dalam satu tahun ia mendapatkan penghasilan
Rp 9 juta. Dan tak satu sen pun tersisa untuk
ditabung. Ia masih harus tinggal di sebuah kamar
kost yang mirip gubuk derita, makan di warung
tegal, membeli pakaian murah di Tanah Abang,
berdesak-desakan dengan banyak teman senasib
dalam bus kota, dan tak pernah mendapatkan teman
kencan seperti yang dibayangkannya dahulu.
Frustrasi dengan pekerjaan yang ada hubungannya
dengan ilmu yang pernah dipelajarinya, Juris
kemudian berhasil pindah ke sebuah perusahaan
perkebunan. Ia ditugaskan di Lampung. Gajinya
kembali ke angka Rp 400.000,00 per bulan. Tetapi
ia berharap akan memiliki prospek karier yang
lebih baik.
Sayang di kebun-kebun itu banyak kesulitan yang
harus dihadapinya. Di samping
hidup jauh dari keramaian kota, kesehatannya
sering terganggu berbagai penyakit yang
membuatnya sering mangkir kerja. Maka ia pun
diberhentikan dan diberi pesangon seadanya.
Kembali ke Jakarta, Juris bekerja serabutan
sebagai makelar. Di usianya yang ke-38, ia
mendapati dirinya masih belum menikah, tak punya
rumah, tak punya kendaran pribadi, tak berbeda
dengan keadaan ketika ia baru lulus jadi
insinyur.
Seperti Juris, Anton juga berasal dari sebuah
keluarga miskin di Jawa Tengah. Dengan bekerja
sebagai sopir taksi di Jakarta, ia berhasil
menyelesaikan studinya di sebuah Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Indonesia.
Setelah diwisuda tahun 1995, Anton berharap
nasibnya akan berubah. Tetapi kenyataan
berbicara lain. Dengan bekal gelar sarjananya ia
harus rela menerima pekerjaan dengan gaji Rp
600.000,00 per bulan (masih lebih bagus dari
gaji pegawai negeri golongan IIIA). Dan setelah
bekerja selama dua tahun, ia kehilangan
pekerjaan karena perusahaannya bangkrut ditelan
gelombang krisis tahun 1997. Ia akhirnya kembali
ke pekerjaan yang dulu dilakukannya untuk
membiayai kuliah di Universitas Indonesia,
menjadi sopir taksi.
Sriwahyuni merupakan contoh lainnya. Sarjana
Ekonomi dari Universitas Jember yang merantau ke
Jakarta tahun 1992 ini juga tidak mendapatkan
pekerjaan seperti yang dicita-citakannya. Bosan
menganggur, Sri akhirnya rela dipekerjakan
sebagai operator telepon di sebuah perusahaan
swasta dengan gaji Rp 500.000,00 per bulan.
Untuk tempat tinggal, ia menumpang di rumah
kakaknya yang telah beristri dan punya 4 anak
dan bekerja sebagai pegawai negeri golongan IIIB
di sebuah departemen. Berimpit-impitan mereka
menempati rumah mungil berukuran 6 x 8 meter,
yang terletak di pinggiran Jakarta Utara.
Juris, Anton, dan Sri telah melupakan hampir
semua citacita yang pernah dimilikinya sejak
kecil. Sekalipun berhasil mengecap pendidikan
tinggi, kehidupan mereka tak banyak berbeda
dengan orangtuanya di kampung.
Satu-satunya perbedaan adalah mereka sekarang
hidup di kota metropolitan.
Begitulah nasib sebagian besar kaum terdidik di
Indonesia.
Bahkan lebih dari itu, data di Departemen
Kesehatan tahun 1996 pernah mencatat sekitar
2.000 dokter masih menganggur setelah dua tahun
kontrak wajib yang dibiayai pemerintah selesai.
Dan itu bukan berita baru, sehingga tidak sampai
dimuat koran-koran nasional karena dianggap
"biasa". Sama "biasanya' dengan
melihat para insinyur atau sarjana teknik
lainnya yang bekerja di perbankan dengan gaji
rata-rata di bawah satu juta per bulan.
Kisah sedih para penganggur terdidik yang masih
terlunta-lunta setelah mengirimkan ratusan
lamaran pekerjaan atau litani para sarjana yang
bekerja tanpa imbalan yang memadai adalah bagian
hidup kita sehari-hari. Belum lagi ketika badai
krisis melanda di paruh kedua tahun 1997.
Semakin banyak orang kehilangan kesempatan
memperbaiki tarafhidup keluarga mereka.
Memang, tidak semua sarjana mengalami hal
seperti itu. Sebagian kecil sarjana lulusan
perguruan tinggi terkemuka bisa mendapatkan
pekerjaan yang relatif bagus di perusahaan
swasta dengan gaji sekitar Rp 1 juta per bulan.
Dan setelah bekerja 68 tahun, sebagian di
antaranya berhasil naik ke posisi manajerial
dengan gaji bulanan sekitar Rp 3 juta. Dengan
asumsi mereka mendapatkan THR dan bonus senilai
3 kali gaji per tahun, total penghasilan mereka
Rp 45 juta. Pada saat itu usia mereka sudah
cukup matang untuk menikah (28-30 tahun). Dan
kalau mereka beruntung mendapatkan pasangan yang
juga berpenghasilan sama besar, maka keluarga
mereka memiliki total penghasilan Rp 90 juta per
tahun. Banyak? Tidak juga. Sebab, andai pun
mereka terbebas dari beban menanggung biaya
hidup orangtua dan adik-adik yang masih sekolah
di kampung asalnya, jumlah tersebut tidak
memadai karena sulit menyisakan tabungan untuk
membeli rumah dan kendaraan pribadi. Pasangan
baru itu mungkin harus puas tinggal di rumah
tipe 36 atau tipe 45 yang terletak di pinggir
Jakarta dan dibeli secara kredit dengan angsuran
bulanan sekitar 30 persen dari gaji bulanan
mereka selama 15 tahun.
Gambaran terakhir ini relatif masih sangat bagus
untuk sebagian besar anggota masyarakat kita.
Akan sangat berbeda halnya bila sarjana tersebut
bekerja di kota kecil di luar Pulau Jawa.
Memiliki penghasilan bulanan sebesar Rp3 juta,
sekalipun telah bekerja keras 6-8 tahun, lebih
mirip khayalan daripada kenyataan.
Apa yang hendak ditegaskan dari hal di atas
adalah penghasilan yang mungkin diperoleh dari
perusahaan konvensional tak lagi dapat
dipergunakan untuk meningkatkan taraf hidup.
Kebanyakan para manajer perusahaan swasta
nasional di Jakarta, misalnya, tak mampu
mendapatkan penghasilan bulanan melewati angka
Rp 5 juta, dengan masa kerja 8-10 tahun
sekalipun.
Penghasilan besar di bisnis konvensional pada
umumnya dinikmati mereka
yang berhasil menduduki posisi puncak di sebuah
perusahaan besar. Sebuah
survei yang pernah dilakukan oleh majalah SWA
menyebutkan gaji seorang
direktur utama dan Chief Executive Officer (CEO)
di Indonesia berkisar antara
Rp 30-50 juta per bulan, 6-10 kali lipat gaji
menteri di Kabinet Gus Dur saat
itu. Tetapi patut diingat bahwa jumlah orang
yang sampai ke tahap itu sangat
sedikit, dan sebagian besar merupakan kroni atau
berkolusi dengan keluarga
pemilik perusahaan. Di samping itu jumlah CEO di
sebuah perusahaan umumnya
hanya satu orang saja.
Kontras dengan potensi penghasilan yang mungkin
didapatkan oleh
karyawan, supervisor, manajer, sampai CEO di
sebuah perusahaan, penghasilan
seorang Diamond melampaui penghasilan para
direktur dan CEO . Dan waktu
yang diperlukan untuk sampai ke posisi puncak di
perusahaan MLM lebih singkat
daripada waktu yang diperlukan untuk mencapai
posisi CEO (kecuali bila
dilakukan dengan pendekatan kolusi dan
nepotisme).
Posisi Diamond umumnya dicapai dalam kurun waktu
2-3 tahun,
sementara di perusahaan konvensional, waktu yang
diperlukan untuk sampai ke
posisi direktur atau CEO adalah 15-30 tahun.
Meskipun karena alasan etika saya tidak dapat
menyebutkan namanya,
namun saya pribadi mengenal beberapa distributor
puncak perusahaan MLM
tertentu yang menerima penghasilan di atas Rp
100 juta per bulan. Angka
tertinggi yang saya ketahui adalah Rp 600 juta
untuk suatu bulan tertentu di
tahun 2004 lalu.
Jadi, berapakah potensi penghasilan yang mungkin
dicapai dengan
menekuni karier di bisnis MLM? Saya tidak tahu
pasti. Namun sebagai gambaran
dapatlah disebutkan bahwa tidak mustahil bagi
sebagian orang di Indonesia
untuk mencapai penghasilan rata-rata Rp 7 juta
per hari atau Rp 210 juta per
bulan alias lebih dari Rp 2,5 miliar per tahun
"hanya" dengan ber-MLM-ria
secara serius dan fokus. Itulah sebabnya tidak
mengherankan bila beberapa
distributor puncak perusahaan MLM di Indonesia
saat ini memiliki hampir semua
atribut yang bisa diasosiasikan dengan
kemewahan: rumah lengkap dengan kolam
renang atau kebun, mobil Merzedes atau BMW
keluaran terbaru, perjalanan ke
mancanegara secara berkala, naik haji berulang
kali, dan sebagainya.
Dengan pemahaman ini, dipandang dari segi
potensi penghasilan yang
mungkin dicapai, berkarier di bisnis MLM
jelas-jelas lebih "menjanjikan"
ketimbang berkarier di bisnis konvensional. Dan
sekali lagi, orang-orang yang
dimungkinkan untuk mencapai posisi puncak itu
tidak cuma satu, tetapi banyak
orang (setidaknya jauh lebih banyak dari mereka
yang menduduki posisi
direktur atau CEO dengan penghasilan bulanan Rp
30-50 juta di seluruh
Indonesia).
Meskipun demikian, harus disebutkan bahwa bagi
sementara orang harapan
menjadi kaya dengan menekuni bisnis MLM di
anggap ide "gila". Mungkin sama
"gila"-nya dengan impian Michael Dell
untuk menyaingi IBM dengan modal usaha
"hanya" seribu dolar Amerika di tahun
1984 (baca: Andrias Harefa,
Berwirausaha dari Nol, Gramedia Pustaka Utama,
2000). Sebab bagaimana mungkin
orang bisa kaya raya hanya dengan berjualan
semir sepatu dan penghemat bensin
secara eceran dari rumah ke rumah?
Namun sejarah mencatat bahwa orang-orang yang
berhasil meningkatkan
taraf hidupnya secara signifikan, dari miskin
raya menjadi kaya raya, memang
sering kali di anggap "gila" pada
awalnya. Mereka yang menganggap diri
"waras" justru tak dicatat sejarah.
Bukankah ini benar-benar "gila"?
Ide "gila" untuk berpenghasilan Rp 7
juta per hari atau Rp 210 juta
per bulan, itulah pesona pertama dari bisnis
MLM.
JIKA ANDA MERASA "WARAS",
MENYINGKIRLAH DARI BISNIS INI.
|